Indonesiabicaranews.id, Konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat kembali memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Isu yang mengemuka bukan hanya soal program nuklir dan keamanan regional, melainkan juga menyangkut kepentingan global, termasuk pengaruh geopolitik dan kontrol terhadap sumber energi dunia.
Sejumlah laporan internasional menyebutkan bahwa eskalasi meningkat pada akhir Februari 2026, ketika terjadi serangan udara yang dikaitkan dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di Iran. Situasi tersebut memperburuk ketegangan yang sebelumnya sudah tinggi di kawasan dan memicu respons keras dari pemerintah Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global diperdagangkan melalui jalur ini. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi internasional.
Pernyataan keras dari pihak Iran terkait kemungkinan pembatasan akses di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran di pasar global. Jika jalur tersebut terganggu, biaya pengiriman minyak dan gas dapat meningkat, premi asuransi kapal melonjak, serta perusahaan pelayaran harus mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan berdampak pada biaya logistik internasional.
Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia tidak terlepas dari dampak fluktuasi harga minyak dunia. Beberapa potensi dampak yang dapat terjadi antara lain:
1. Harga BBM dan Inflasi
Kenaikan harga minyak global dapat mendorong peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan stabilisasi, kondisi ini berpotensi meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
2. Tekanan terhadap APBN
Pemerintah dihadapkan pada pilihan kebijakan antara menyesuaikan harga BBM atau menambah subsidi energi. Kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama di tengah kebutuhan pembiayaan program pembangunan lainnya.
3. Nilai Tukar Rupiah
Ketidakpastian global biasanya mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Arus modal keluar dari negara berkembang dapat menekan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya membuat biaya impor meningkat dan menambah tekanan inflasi.
4. Peluang bagi Ekspor Komoditas
Di sisi lain, kenaikan harga energi global dapat memberikan peluang bagi Indonesia sebagai eksportir batu bara dan gas alam cair (LNG).
Namun, keuntungan tersebut tetap dibayangi risiko perlambatan ekonomi global akibat ketidakpastian berkepanjangan.
Eskalasi konflik di Timur Tengah juga berdampak pada pasar keuangan global. Harga minyak dan gas cenderung berfluktuasi tajam, sementara indeks saham di sejumlah negara mengalami tekanan. Mata uang negara berkembang umumnya ikut melemah akibat meningkatnya aversi risiko investor.
Jika kondisi ini berlangsung lama, arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi melambat. Dampaknya dapat dirasakan pada pertumbuhan ekonomi nasional, terutama pada sektor yang bergantung pada investasi asing dan perdagangan internasional.
Gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz juga dapat meningkatkan biaya logistik global. Kenaikan ongkos angkut dan distribusi berpotensi memengaruhi harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan kebutuhan pokok. Dalam jangka panjang, tekanan biaya ini dapat merambat hingga ke tingkat konsumen.
Skenario Eskalasi Konflik
Dari perspektif geopolitik dan geoekonomi, terdapat beberapa kemungkinan perkembangan situasi:
Perang Terbatas
Konflik berlangsung dalam skala terbatas melalui serangan jarak jauh atau dukungan terhadap aktor non-negara, tanpa konfrontasi langsung berskala penuh.
Perang Proksi Regional
Ketegangan meluas ke negara-negara sekitar melalui keterlibatan kelompok atau aliansi regional.
Perang Terbuka Skala Besar
Konfrontasi langsung antara Iran dan koalisi yang terlibat, yang berisiko besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Tekanan Diplomatik dan Gencatan Senjata
Intervensi diplomatik dari negara-negara besar dan lembaga internasional dapat mendorong de-eskalasi demi menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Dalam konteks geoekonomi, ancaman gangguan terhadap jalur energi global sering dipandang sebagai instrumen tekanan strategis. Namun, langkah tersebut juga berisiko merugikan pihak yang menggunakannya.
Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran menunjukkan bahwa dinamika perang modern tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga pada sektor ekonomi dan energi. Negara-negara yang tidak terlibat langsung, termasuk Indonesia, tetap merasakan dampaknya melalui inflasi, nilai tukar, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.
Bagi Indonesia, tantangan utama adalah menjaga stabilitas ekonomi domestik melalui penguatan ketahanan energi, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta percepatan transisi menuju sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, dinamika geopolitik di Timur Tengah bukan lagi isu yang jauh. Dampaknya dapat menjalar hingga ke pasar, industri, dan rumah tangga masyarakat.
Oleh: Muh Erwinsyah
Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi Untad
(Red)
Tags
#Sulsel